Ringkas jawapannya bernada kecewa
Seakan sedang memendam rasa yang amat dalam
“apa yang kau tulis?
Si bidadari bertanya lagi ingin tahu
Nota-nota kecil di masukkan satu persatu
Di dalam botol kaca kecil lutsinar
“aku menulis tentang harapan hidup”
Lemah dia menutur ada pedih di hati
Yang cuba di sembunyi
Sakit perit yang tidak pernah terubat
“kau fikir,ia akan sampai ke tangan Tuhan?”
Persoalan itu menimbulkan keraguan
Si bidadari di pandangnya lagi
“aku bisa bawa kau bertemu Tuhan jika kau mahu”
Kata-kata dari si bidadari bagaikan harapan
Wajahnya yang kelam berubah caria
“apa benar,aku bisa bertemu dengan Tuhan?”
Si bidadari tidak menjawab
hanya senyuman seulas di berikan
“gapailah tangan aku mari ikut aku”
Dia menuruti berjalan perlahan maju ke depan
Bagaikan terpukau dengan keindahan
“ya,aku turuti langkah kamu”
Dia terus berjalan terus maju kedepan
Air laut masin sudah mula meneggelamkan separuh badannya
Tapi dia tidak peduli janjinya bidadari membawa
Dia bertemu dengan Tuhan untuk sebuah harapan
“marilah lekas,kau sudah semakin hampir dengan Tuhan”
Kakinya tidak berhenti terus berjalan melawan
Arus ombak yang sesekali datang dari arah bertentangan
Dia semakin jauh tubuhnya sudah tidak kelihatan lagi
Dia sudah hilang dari pandangan untuk bertemu dengan Tuhan
Dengan membawa pergi sebuah harapan hidup…..
Dia akhirnya bertemu dengan Tuhan
Tetapi bukan dengan membawa harapan dan iman…